Terkadang CERITA itu Lebih Menarik

post time 1. July 2008 member Admin

Dibawah ini terdapat tulisan mengenai “pasif income” dalam 2 bentuk. Satunya berupa cerita dan satu lagi berupa artikel. Silahkan Anda membaca keduanya, setelah itu Anda dapat menilai yang mana yang Anda lebih suka.

Cerita

Di sebuah desa yang terpencil, air bersih sangat sulit ditemukan. Penduduk harus berjalan sejauh 10km untuk ke sungai untuk mendapatkan air bersih. Dalam desa tersebut, Badu dan Dodi bertugas untuk menyediakan air bersih bagi penduduk. Setiap harinya kerja mereka adalah membawa ember ke sungai, dan mengangkat air dari sungai tersebut kembali ke desa.

Walaupun Badu dan Dodi adalah pesaing dalam bisnis air, namun mereka berdua tetap berteman dan sering saling berbagi cerita satu sama lain.

Suatu hari, Badu mendapatkan satu ide bagus mengenai bisnis airnya. Dan dia bermaksud mengajak Dodi untuk bekerja sama.

“Dod, kan rasanya cape kalau kita setiap hari mesti mengangkat air dari sungai. Bagaimana kalau kita bangun saluran air dari sungai ke desa kita?” ajak Badu.

Sayangnya Dodi berpikiran lain. “Apa? Buat apa cape-cape bikin saluran air sepanjang itu. Buang-buang uang. Buang-buang tenaga saja. Lebih baik tenaganya dipakai untuk mengangkat air. Toh gua kuat kok tiap hari angkat air ke desa.”

Begitulah akhirnya karena perbedaan pendapatan, Badu dan Dodi menempuh jalannya masing-masing. Dodi tetap bersikeras untuk mengangkat air seperti biasa dari sungai ke desa. Sementara Badu memulai usahanya untuk membangun saluran air.

Berhubung pada waktu itu teknologi gak secanggih sekarang, membangun saluran air membutuhkan waktu yang lama. Kerjaan Badu berganti menjadi menggali saluran. Setiap hari Badu bekerja tanpa dibayar. Bahkan Badu harus mengeluarkan uang sendiri untuk membayar pipa air.

Dodi menertawakan kerjaan Badu. “Bodoh. Mau-maunya melakukan pekerjaan yang tidak dibayar. Dulu sudah bagus masih punya pekerjaan yang bisa dapat uang, sekarang malah hidup menderita.”

Sepanjang 3 bulan Badu harus bekerja tanpa dibayar. Dia bisa hidup dari uang tabungan, namun harus hidup super hemat setiap harinya. Uangnya hanya cukup untuk membayar makanan sederhana.

Akhirnya saluran air Badu berhasil dibangun. Badu bisa mendapatkan air bersih cukup dari rumahnya di desa. Dan air ini dapat langsung dijual ke desa tanpa perlu berjalan ke sungai.

Sekarang, Badu telah mendapatkan pendapatan pasif dari saluran airnya. Saluran air ini tetap terus menghasilkan uang untuk Badu, tanpa perlu bekerja. Sementara Dodi tetap harus berjalan ke sungai untuk mengambil air untuk menghasilkan uang.

Waktu terus berjalan, akhirnya Dodi dan Badu memasuki usia tuanya. Badan Dodi sudah tidak sekuat yang dulu lagi. Tenaganya tinggal separuh. Karena dia sudah tidak kuat untuk berjalan ke sungai, pendapatannya menurun jauh. Bahkan, bila Dodi sedang sakit, Dodi tidak mendapatkan uang sama sekali.

Pada saat itu Dodi mulai menyesal, mengapa dulunya dia tidak menerima tawaran Badu untuk bekerja sama. Padahal kalau dia dulunya berpikir seperti Badu, tentunya hidupnya sekarang tidak sesusah sekarang.

Artikel

Pasif income adalah pendapatan yang datang secara pasif. Artinya kita akan mendapatkan uang, tanpa harus bekerja. Menarik bukan? Bagaimana cara mendapatkan pasif income ini?

Dalam konsep Cashflow Quadrant yang diajarkan oleh Robert Kiyosaki, Kiyosaki mengatakan bahwa yang mendapatkan pasif income adalah mereka yang berada pada kuadran kanan. Yaitu kuadran bisnis dan kuadran investor. Sayangnya untuk berpindah dari kuadran kiri ke kuadran kanan itu tidak gampang. Dibutuhkan pola pikir yang berbeda.

Bagaimanakah pola pikir orang di kuadran kanan? Jawabannya adalah seperti ini. Orang-orang pada kuadran kanan hanya mengerjakan satu hal, yang akan mendatangkan uang secara terus-menerus bagi mereka. Singkat kata, satu kali kerja, uang akan mengalir terus.

Contohnya adalah bisnisman. Dalam membangun bisnis, bisnisman pasti membuat suatu sistem. Sistem ini akan mengatur cara kerja seluruh bisnisnya. Misalnya untuk usaha dagang, bisnisman akan mengatur siapa yang akan membeli barang, siapa yang akan menjual barang, siapa yang akan menagih, bagaimana cara uang disetor ke bank, dan lain-lain.

Jadi tugas utama dari bisnisman adalah men-setup sistem. Dalam sistem bisnisnya, orang lainlah yang bekerja untuk sang bisnisman. Setelah bisnis dapat berjalan dengan lancar, tugas bisnisman menjadi lebih ringan, cukup mengawasi bisnis. Bahkan bila bisnis ditinggalkan oleh bisnisman, untuk liburan ke luar negeri, bisnis tetap dapat berjalan dengan lancar. Uang akan tetap mengalir masuk. Pasif income.

Penutup

Cerita dan artikel diatas memiliki topik yang sama, yaitu pasif income. Yang berbeda hanyalah gaya penceritaannya. Yang mana yang Anda lebih suka? Cerita? Artikel?

Category Uncategorized | 54 Kommentare »

Membangun Kebiasaan Belanja Yang Sehat

post time 1. July 2008 member Admin

Banyak dari kita bingung mencari cara bagaimana agar gaji cukup untuk satu bulan karena sering kali gaji tersebut habis sebelum waktunya. Sebenarnya anda bisa menabung dari gaji anda tidak perduli berapapun penghasilan anda, dengan cara membangun kebiasaan yang sehat dalam menggunakan uang dan berani mencoba cara-cara kreatif yang bisa membuat uang anda berkembang dan juga membuat hidup anda lebih baik. Namun, perubahan suatu kebisaan memang selalu membutuhkan penyesuaian dipihak lain. Begitu juga dengan kebiasaan berbelanja, menghabiskan uang pasti jauh lebih menyenangkan daripada harus menyimpannya.

Ketahuilah, Anda tidak harus menderita karena mencoba mengelola uang dengan baik dan mulai menata hidup Anda. Yang harus anda lakukan adalah bagaimana menggunakan uang dengan pintar serta menjadi seorang pembelanja yang hati-hati. Tujuannya adalah agar Anda mendapatkan hasil yang maksimal dari tiap rupiah yang anda hasilkan dan tidak mengeluarkan sepeserpun ketika tidak diharuskan untuk itu.

Kita ambil saja contoh lain selain perubahan kebiasaan berbelanja yang juga menjadi masalah kebanyakan orang, misalnya kebiasaan merokok. Anda tahu bahwa merokok merusak kesehatan, menyebabkan gangguan kehamilan, impotensi, jantung dan sebagainya. Anda ingin berhenti merokok sama sekali, tetapi tiap hari selalu saja yang terjadi sebaliknya. Berbagai godaan saat pelaksanaannya membuat kemauan yang sudah kuat harus menyerah dengan olok-olok teman yang bertaruh Anda pasti tidak akan berhasil. Belum lagi yang mulut yang terasa asam, konsentrasi yang tergangggu, kepala pusing karena ternyata berhenti merokok juga membutuhkan penyesuaian kondisi fisik yang lain.

Well…. Memang sulit sekali jika Anda harus berhenti merokok sekaligus, tetapi jika satu hari Anda biasa menghabiskan satu bungkus isi 12 batang, kenapa tidak dicoba untuk mengurangi satu batang rokok saja terlebih dahulu. Bedanya tidak terasa bukan? Jika anda memaksa berhenti sekaligus, Anda pasti akan tersiksa

Bagaimana caranya supaya bisa menggunakan uang dengan cermat dan menjadi pembelanja yang hati-hati? Berikut ini adalah tips-tips belanja pintar yang sederhana dan bisa membantu Anda membangun kebiasaan berbelanja yang sehat, antara lain :

1. Kurangi membeli barang-barang yang nilainya menurun
Belanjakanlah uang Anda pada barang-barang yang nilainya bertambah. Kebanyakan orang berbelanja pada barang-barang yang nilainya habis begitu digunakan seperti, makanan, pakaian, atau nilainya menurun seperti barang elektronik dan barang-barang konsumsi lainnya. Selama anda sudah bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan maka berbelanja adalah hal yang wajar dilakukan dan buka sekedar lapar mata saja

2. Little stuff means a lot
Seringkali kita tidak merasa keluar uang banyak untuk beli rokok, beli cemilan atau sekedar ngopi-ngopi. Wajar saja jika kita lupa karena jumlahnya kecil saja dan sudah menjadi kebiasaan. Bahayanya adalah karena menjadi kebiasaan sehari-hari maka kita lupa bahwa jumlah yang kecil tadi jika kita kalkulasi dalam setahun jumlahnya jadi besar juga. Tentunya jumlahnya akan jadi lebih berlipat ganda jika diinvestasikan.

3. Jaga total cicilan hutang dibawah 30% dari gaji
Kebiasaan orang pada umumnya adalah menggunakan hampir 90% dari penghasilannya perbulan untuk membiayai kebutuhan belanja rumah tangga. Apa yang terjadi jika Anda mempunyai cicilan hutang rumah, mobil atau kartu kredit yang menghabiskan 50% dari penghasilan? Kemana Anda harus memenuhi kebutuhan belanja rumah tangga. Bisa-bisa Anda mencari pinjaman sana-sini untuk mencover kebutuhan rumah tangga. Karena itu jika anda harus berhutang, jagalah agar total cicilan hutang per bulan jumlahnya tidak lebih dari dari 30% dari penghasilan anda, sehingga sisanya sebesar 70% bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

4. Kartu kredit bukan uang lebih
Kartu kredit seringkali membuat kita lebih kaya daripada yang sebenarnya. Limit kartu kredit membuat kita serasa mempunyai uang tunai lebih. Padahal limit kartu kredit yang diberikan tidak gratis. Begitu kita pakai maka kita harus mengembalikannya, dan jika Anda tidak sanggup membayar lunas maka Anda akan dikenakan bunga. Karean itu untuk belanja sehari-hari bayarlah dengan uang tunai atau dari kartu ATM atau kartu debit Anda. Simpanlah kartu kredit Anda untuk keadaan darurat, sebagai sumber dana cepat kala keadaan gawat namun uang tunai tidak tersedia.

5. Miliki dana cadangan
Kadang-kadang walaupun orang sudah mempunyai anggaran belanja, tetap saja kebobolan. Hal ini biasanya karena ada pengeluaran tidak rutin atau tak terduga yang tidak terdapat dalam anggaran. Misalnya ada saudara pinjam uang, memberikan hadiah ulang tahun, sumbangan pernikahan, dan lain-lain. Biasanya untuk membayar pengeluran tak terduga ini kita terpaksa mengambil simpanan dari tabungan atau deposito atau memakai kartu kredit. Jika hal ini terjadi terus menerus akibatnya tujuan investasi Anda bisa tidak tercapai karena dananya selalu terpakai. Karena itu bentuklah dana cadangan minimal sebesar 2 atau 3 kali pengeluaran keluarga Anda per bulan untuk membayar pengeluaran mendadak yang tidak rutin ini. Jika penghasilan Anda tidak rutin atau belum stabil maka bentuklah dana cadangan lebih besar lagi. Sebelum Anda berinvestasi untuk tujuan keuangan apapun, pastikanlah Anda sudah membentuk dana cadangan ini terlebih dahulu.

Mike Rini
Perencana Keuangan
Sumber Danareksa.com

Category Uncategorized | 46 Kommentare »

Lebih Jauh dengan Konsep Compound Interest

post time 1. July 2008 member Admin

Apakah Anda tahu bagaimana memanfaatkan keuntungan konsep bunga berbunga untuk perencanaan keuangan keluarga? Kalau mau tahu dan ingin memahaminya lebih jauh, ikuti ulasannya.

Secara mendasar bunga biasa hanya memberikan keuntungan dari investasi awal yang ditempatkan, sedangkan kalau bunga berbunga, dari perhitungan keuntungan yang akan datang berdasarkan investasi awal ditambah dengan hasil investasi yang lalu.

Lebih jelasnnya, misalkan Anda menempatkan dana sebesar Rp 1 juta rupiah, dan diperjanjikan akan diberikan keuntungan sebesar 6% per tahunnya. Nah, dengan bunga biasa di akhir tahun pertama, Anda akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 60.000. Kemudian di tahun kedua Anda akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 60.000 dan seterusnya. Perhitungan keuntungan hanya diperoleh dari investasi awal saja.

Konsep bunga berbunga berbeda. Dari investasi awal yang Rp 1 juta Anda akan mendapatkan keuntungan diakhir tahun sebesar Rp 60,000. di tahun selanjutnya, perhitungan investasi berdasarkan investasi awal ditambah dengan hasil investasi di tahun sebelumnya (Rp 1 juta + Rp 60,000), jadi keuntungan yang didapat di tahun kedua menjadi Rp 63.600. Di tahun selanjutnya keuntungan dihitung berdasarkan (Rp 1,060,000 + Rp 63,600) x 6% = Rp 67,416 dan seterusnya.

Jelas sekali dari contoh diatas, bahwa konsep bunga-berbunga memberikan keuntungan yang lebih besar. Tapi mengapa banyak orang yang gagal untuk memanfaatkan keuntungan dari konsep ini? Karena konsep ini adalah sebuah proses bukan hasil. Seperti halnya perencanaan keuangan yang Anda kembangkan, itu merupakan proses bukan hasil akhir. Banyak orang yang tidak memahami untuk mencapai tujuan akhir tentunya harus melalui proses. Seorang juara marathon kelas dunia, harus berlatih keras agar dapat menjadi yang terbaik. Prosesnya bagi mereka adalah berlatih dengan giat.

The Rule of 72

Rule 72 adalah cara mudah untuk mengestimasi bagaimana dana Anda dapat berkembang pada tingkat suku bunga yang berbeda. Ini dapat memberikan masukan kepada Anda untuk merencanakan tabungan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Rule 72 ini membantu Anda menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk dana Anda berkembang menjadi dua kali lipat. Caranya: dengan membagi 72 dengan bunga yang Anda peroleh dari investasi yang ditempatkan. Hasilnya adalah waktu yang dibutuhkan dana Anda untuk tumbuh menjadi dua kali lipat. Misalkan, bunga yang Anda peroleh dari tabungan adalah sebesar 6%, maka dana Anda akan bertumbuh menjadi dua kali lipat dalam waktu 12 tahun (72/6 = 12).

Sebaliknya, bila Anda membagi 72 dengan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mejadikan dana Anda bernilai dua kali lipat, maka perhitungan itu akan memberikan tingkat suku bunga yang harus Anda dapatkan untuk mencapai tujuan tersebut. Cobalah dengan kondisi Anda saat ini.

Lebih lanjut dengan Rule 72 Interval

Jangka waktu yang dibutuhkan agar dana Anda berkembang menjadi dua kali lipat disebut sebagai interval. Sebagai ilustrasi, misalkan Anda ingin mempersiapkan kebutuhan pensiun Anda di usia 55 tahun. Saat ini, Anda berusia 30 tahun. Bila instrumen yang Anda pilih memberikan tingkat suku bunga sebesar 6%, jadi dana yang Anda miliki akan menjadi dua kali lipat dalam 12 tahun. Berapa banyak interval yang terjadi selama proses perencanaan tersebut?

Jawabnya, kurangi usia Anda, 30 tahun dari waktu tujuan keuangan yang diinginkan, 55 tahun, hasilnya 25 (55-30). Bagi nilai tersebut (25) dengan 12 = 2,1 interval. Jadi bila saat ini Anda memiliki dana sebesar Rp 100 juta, dana Anda bisa bernilai Rp 200 juta di usia Anda 42 tahun dan sebesar Rp 400 juta di usia Anda 54 tahun.

Nah sekarang, bila Anda bisa mendapatkan tingkat suku bunga yang lebih baik, sebut saja 10%, uang Anda akan berlipat dua setiap 7,2 tahun. Berapa interval yang Anda miliki sekarang? 25 dibagi 7,2 = 3,5.

Ini berarti bahwa dana awal Rp 100 juta yang Anda miliki bisa menjadi Rp 1 miliar di saat Anda berusia 55 tahun. Sayangnya, tingkat suku bunga yang lebih tinggi, berarti semakin tinggi pula risikonya. Sedikit yang bisa menerima risiko yang lebih besar, kecuali mereka memahami apa arti risiko investasi dan apa yang terjadi bila mereka tidak mengambilnya.

Dalam hal investasi, ada dua risiko yang harus dihadapi oleh setiap individu. Mereka harus menghadapi risiko kehilangan modal awal karena harus melikuidasi investasi di saat pasar sedang turun atau risiko kehilangan daya beli karena adanya inflasi. Oleh karenanya, menyeimbangkan antara dampak inflasi dan tingkat risiko yang sebaiknya diambil menjadi sangat penting untuk mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.

Memahami Kekuatan Interval

Sekarang kita tau berapa lama waktu yang dibutuhkan Rp 1 menjadi Rp 2. Itu bergantung dengan tingkat suku bunga yang diperoleh. Nah sekarang, berapa waktu yang dibutuhkan Rp 2 menjadi Rp 3? Atau Rp 4 menjadi Rp 5? Mari kita pelajari dari diagram diatas, dimana dibutuhkan satu interval penuh untuk melipat gandakan Rp 1 menjadi Rp 2.

Di interval kedua, di mana Rp 2 menjadi Rp 4 rupiah dalam satu interval penuh. Jadi dapat disimpulkan bahwa Rp 2 menjadi Rp 3 hanya membutuhkan setengah interval (1/2). Sekarang bagaimana dengan Rp 4 menjadi Rp 5 rupiah? Rp 4 menjadi Rp 5 rupiah hanya membutuhkan seperempat (1/4) interval.

Jadi kalau kita lihat disini, sangat jelas bahwa compound interest bukan merupakan persamaan linear. Tapi itu merupakan fungsi geometrik. Fungsi linear adalah 1, 2, 3, 4 dan seterusnya. fungsi geometrik adalah 1, 2, 4, 8, 16, 32 dan seterusnya.

Perhatikan bahwa perkembangannya akan semakin besar dengan berjalannya waktu. Jelas sekali disini bahwa compound interest sangat menguntungkan. Pikirkan, dibutuhkan waktu 12 tahun (dengan asumsi tingkat bunga 6%) untuk mencapai pertumbuhan di interval pertama. Tapi hanya membutuhkan waktu 6 tahun di interval kedua untuk memberikan perkembangan yang sama.

Akan tetapi, hanya membutuhkan waktu 3 tahun di interval ketiga untuk memperoleh pertumbuhan yang sama. Jadi sapat disimpulkan bawah compound interest akan bertambah keuntungan bila Anda tetap menjalannya selama jangka waktu yang lama.

Jangan Memutus Rantai Compound Interest

Jelas sekali dari ulasan di atas bahwa membutuhkan waktu untuk melihat dampak yang dinamis dari compound interest. Oleh karena itu, kami anjurkan agar Anda jangan pernah memutuskan rantai dari compound interest. Apa yang terjadi bila Anda memutuskannya? Maka Anda akan kembali ke interval pertama (kurva awal) dan harus memulai kembali interval baru (lihat diagram di bawah ini).

Bila Anda memutuskan rantai compound interest maka Anda harus memulainya dari awal kembali.

Bila Anda TIDAK memutus rantai compound interest maka hasilnya akan dirasakan sangat besar di 3 tahun terakhir.

Banyak orang yang gagal untuk mempertahankan rantai compound interest karena berbagai hal. Hal ini mungkin saja terjadi karena di awal-awal tahun perkembangan dari investasi dirasa sangat lambat—membosankan. Mereka memutuskan untuk mencairkannya.

Saran yang bisa kami sampaikan adalah miliki tujuan keuangan yang spesifik, karena dengan adanya tujuan tersebut akan lebih memotivasi Anda untuk tetap mempertahankan investasi sampai jangka waktu yang diinginkan. Apalagi bila tujuan tersebut adalah tujuan jangka panjang.

Semoga ulasan ini membuka mata kita semua akan dampak compound interest terhadap investasi yang kita tempatkan. Akhir kata, ada tiga hal yang bisa mempercepat pertumbuhan investasi yang Anda miliki, pertama adalah modal awal yang ditempatkan.

Tapi itu bukanlah segalanya. Anda bisa melakukan dengan berkala. Kedua, adalah tingkat pengembalian. Tentunya semakin tinggi ekspektasi tingkat keuntungan akan berdampak juga terhadap kenaikan risikonya. Sesuaikan dengan toleransi risiko Anda, jangka waktu serta kebutuhan akan tingkat likuiditas. Dan terakhir adalah waktu.

Saran kami, laukan program menabung sedini mungkin, manfaatkan dampak compound interest dengan waktu yang Anda miliki.

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Category Uncategorized | 23 Kommentare »

Kunci Pengelolaan Keuangan Adalah Budgeting

post time 1. July 2008 member Admin

Apabila Anda pernah membaca Finansial Revolution, mungkin Anda masih ingat ada 3 tahap yang diajarkan oleh Tung Desem Waringin untuk mencapai finansial freedom:
1. Berbelanja lebih sedikit daripada pendapatan (gaji).
2. Menginvestasikan selisihnya.
3. Menginvestasikan kembali pokok dan bunga investasi untuk pertumbuhan bunga majemuk.
Disini kita lihat bahwa ilmu dasar untuk mencapai finansial freedom adalah Anda harus dapat mengatur pengeluaran Anda supaya selalu lebih kecil dari pada pendapatan. Setelah itu barulah Anda akan mendapatkan sejumlah uang untuk diinvestasikan. Bila Anda gagal di tahap 1, Anda tidak bisa melangkah ke tahap-tahap berikutnya.

Ada 3 langkah besar untuk menjadi kaya yang kurang lebih sama dengan ajaran TDW, yaitu:

  1. Memotivasi diri Anda. Dalam langkah ini Anda membuang pikiran-pikiran negatif yang menghalangi Anda dari jalan menuju kekayaan. Ingat, Anda tidak dilahirkan untuk menjadi miskin. Meminjam kata dari Andrie Wongso, “Sukses adalah Hak Saya”.
  2. Memberdayakan Dana. Langkah ini adalah jawaban dari pertanyaan diatas. Dalam langkah ini Anda diajarkan untuk mengoptimalkan penggunaan uang Anda, sehingga pendapatan Anda akan menjadi lebih besar daripada pengeluaran. Disini Anda akan mendapatkan sisa uang yang dapat diinvestasikan untuk tahap berikutnya.
  3. Melipatgandakan Kekayaan. Disini saya menuliskan berbagai macam produk investasi dengan konsep compound interest (bunga majemuk). Konsep bunga majemuk adalah sama dengan langkah kedua dan langkah ketiga pada ajaran TDW, yaitu Anda menginvestasikan sejumlah uang. Kemudian Anda menginvestasikan ulang pokok dan bunga investasi Anda sebelumnya. Sehingga bunga yang Anda dapatkan dari investasi dapat turut berbunga. Dengan menggunakan konsep ini, maka Anda dapat melipatgandakan nilai investasi Anda.

Ilmu dasar dari pengelolaan keuangan pribadi atau keluarga terletak pada langkah kedua. Memberdayakan Dana. Dalam langkah inilah Anda mendapatkan jawaban dari pertanyaan di atas.

Apakah jawabannya? Kunci jawabannya adalah “Budgeting”. Dalam proses budgeting, Anda membuat anggaran pendapatan dan belanja Anda. Biasanya secara bulanan. Kemudian, Anda secara disiplin mengatur pengeluaran Anda pada bulan tersebut agar sesuai dengan anggaran Anda.

Contohnya, misalkan saja pendapatan Anda adalah dari gaji, yaitu Rp. 4.500.000,-


PENDAPATAN:
Gaji Rp. 4.500.000,-
==================================
TOTAL PENDAPATAN Rp. 4.500.000,-

Dari total pendapatan tersebut, bagikan jatah untuk pos-pos pengeluaran Anda. Ingat, Anda harus menyisakan minimal 10% dari total pendapatan Anda untuk TABUNGAN. Tabungan inilah yang nantinya akan digunakan untuk berinvestasi.

BELANJA
Makanan/Kebutuhan Harian Rp. 1.500.000,-
Pakaian Rp. 300.000,-
Pendidikan Rp. 500.000,-
Kesehatan Rp. 300.000,-
Rekreasi Rp. 500.000,-
Transportasi Rp. 300.000,-
Asuransi Rp. 250.000,-
Tabungan Rp. 450.000,-
Pembayaran Kredit Rp. 500.000,-
Lain-lain Rp. 400.000.-
=========================================
TOTAL BELANJA Rp. 4.500.000,-

Setelah Anda mengatur anggaran Anda, maka jalanilah secara disiplin bulan tersebut agar sesuai dengan anggaran. Apabila Anda menjatahkan pos pengeluaran untuk pakaian sebesar Rp. 300.000,-, maka Anda harus konsisten dalam berbelanja. Dalam memilih pakaian, Anda tidak boleh membeli yang lebih mahal dari secara total Rp. 300.000,-. Dan apabila Anda sudah membelanjakan seluruh jatah pakaian Anda, maka Anda sudah tidak boleh membeli pakaian lagi pada bulan yang sama. Begitu juga untuk pos-pos pengeluaran lainnya.

Category Uncategorized | 21 Kommentare »

Income Naik, Expense Turut Naik?

post time 1. July 2008 member Admin

Alkisah Yanto yang baru saja diangkat menjadi Manager. Gajinya meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sebelumnya 4 juta menjadi 10 juta rupiah.

Berhubung jabatannya sekarang sudah bergengsi, Yanto merasa bahwa dirinya layak menikmati gaya hidup yang lebih mewah. Sepeda motor yang biasa dikendarainya untuk ke kantor mulai dijual, digantikan dengan mobil Kijang baru yang dibeli secara kredit.

Selain itu, Yanto juga sering lunch bareng dengan manajer-manajer lainnya di cafe ataupun restoran. Sudah bukan di foodcourt karyawan biasa.

Untuk pakaian, Yanto juga mulai memilih merk-merk yang mahal. Malu donk, masa manager gak pake kemeja bermerk.

Begitulah perubahan gaya hidup yang drastis yang disebabkan oleh kenaikan jabatan. Tanpa sadar, pengeluaran Yanto turut membesar. Bahkan melebihi kenaikan gajinya. Dulunya Yanto dapat hidup pas-pasan dengan gajinya yang 4 juta, sekarang dengan gaji 10 juta pengeluaran Yanto malah 12 juta. Setiap bulan tekor 2 juta.

Namun Yanto tidak khawatir. Dengan pangkatnya yang sekarang, banyak kok bank yang bersedia menawarkan kartu kredit. Dalam waktu singkat Yanto bisa memiliki 5 kartu kredit yang dapat digunakan untuk berbelanja.

Begitulah caranya Yanto membiayai pengeluaran bulanannya yang melebihi gajinya. Tanpa terasa hutangnya terus membengkak. Hingga akhirnya debt collector mulai mengejar-ngejar Yanto. Tidak sanggup membayar cicilan kartu kredit, kata-kata kasar mulai dilontarkan oleh debt collector. Ancaman menyita harga mulai bermunculan.

Akhirnya Yanto mulai menyesal. Mengapa dia harus mengikuti gaya hidup seperti ini? Gaya hidup yang tidak sangup dibayar dengan tingkat pendapatan yang sekarang. Namun menyesal saja sudah tidak cukup, Yanto sudah terpuruk secara finansial.

Pesan Moral: Melek Finansial

Cerpen diatas bukan cerita real. Saya hanya bermaksud mengingatkan Anda, agar selalu melek finansial. Ada saatnya kita semua mengalami kenaikan pendapatan, bisa berupa bonus tambahan, naik pangkat, menang undian, dan lain-lain. Namun kita harus tetap ingat hukum utama keuangan:
“Pengeluaran harus selalu dibawah pendapatan”

Kita memang perlu memberi reward kepada diri kita karena kenaikan pendapatan. Namun tetap ingat, jangan sampai biaya untuk reward tersebut lebih besar dari jumlah kenaikan pendapatan itu sendiri. Karena pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan akan membawa kita ke arah kebangkrutan finansial.

Category Uncategorized | 51 Kommentare »

Hindari Kerugian Investasi Akibat Bias Psikologis

post time 1. July 2008 member Admin

Mengembangkan sebuah perencanaan investasi termasuk langkah yang tidak terlalu sulit, akan tetapi terus berjalan dalam perencanaan yang telah ditetapkan untuk jangka panjang sangatlah sulit. Kebanyakan investor sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu tamak (greed) dan takut (fear). Bila pasar sedang bergejolak, investor jadi takut. Bukannya menjual pada saat harga sedang naik malah menjual saat turun. Hot tip yang diberikan teman terkadang juga dijadikan satu-satunya masukan dengan harapan menjadi miluner dalam waktu pendek.

Mereka melakukan hal tersebut karena mereka manusia dan mereka juga kurang memiliki ketetapan hati dalam melaksanakan perencanaan yang telah dibuat atau malah tidak memiliki perencanaan investasi sama sekali. Kita sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi semata yang bisa sangat merusak investasi yang telah dilakukan.

Dalam pembahasan kali ini kami mencoba memberikan perspektif dalam mengatasi dan mengenali sifat ini dan menjelaskan pentingnya sebuah perencanaan yang berkesinambungan guna mencapai tujuan yang diidamkan.

Tamak (Greed)

Sifat Pertama adalah Tamak (Greed). Sering terjadi, akibat ingin buru-buru mendapatkan keuntungan besar, investor lupa untuk berpikir rasional dan bertindak berdasarkan naluri yang ternyata lebih bersifat emosional. Misalnya, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meningkat dari level 400-an dan untuk pertama kalinya kembali menembus ke level 700-an, banyak investor baru terangsang emosi tamaknya.

Saat itu, melihat banyak rekan atau tetangga mereka mendadak bisa beli mobil baru karena investasi di saham, para investor lugu tersebut tanpa pikir panjang langsung ikutan beli saham. Sayangnya, tak lama setelah mereka beli saham, IHSG justru menurun.
Apa jadinya? Karena kurangnya pengetahuan serta pola investasi yang sesuai bukan keuntungan yang didapat, melainkan kerugian. Maunya untung malah buntung.

Investor sangat dipengaruhi oleh informasi seputar performa sebuah investasi. Keputusan untuk mendapatkan keuntungan didasari oleh performa masa lalu sebuah investasi. Seperti kita ketahui, past performance is no guarantee of future results. Mungkin pada masa tersebut sebuah sektor yang dipilih oleh manajer investasi memberikan keuntungan yang tinggi. Begitu Anda mulai melihat pertumbuhan dari investasi tersebut Anda baru masuk. Namun, setelah beberapa waktu, sektor tersebut mulai melemah dan malah merugi.

Ekspektasi yang berlebihan

Karena investor merasa sangat tamak, hal ini bisa mengakibatkan Anda menjadi sangat mengharapkan sesuatu diluar kebiasaan tentang risiko investasi maupun keuntungan investasi. Menabung menjadi kurang dan mengakibatkan tidak tercapai tujuan yang diinginkan karena Anda mengharapkan keuntungan invetsai yang tidak realistik. Bila harapan Anda tidak terwujud Anda harus mencari alternatif investasi lain yang mungkin saja lebih tidak realistik, dengan harapan dapat mengejar kekurangan yang selama ini terjadi.

Takut (Fear)

Saat IHSG mulai menurun (lanjutan cerita diatas), pendulum emosi para investor baru tersebut beralih dari tamak menjadi Takut (Fear). Akibatnya mereka beramai-ramai keluar dari pasar. Jadi yang mereka lakukan bukannya beli murah jual mahal, melainkan beli mahal, jual murah, alias rugi.

Timbul rasa takut dikarenakan adanya potensi kerugian. Banyak research yang mengatakan bahwa kita lebih membeci kehilangan atau kekalahan dari pada kita mencintai kemenangan. Mengikuti perkembangan portfolio atau investasi yang Anda miliki setiap saat bisa sangat membahayakan. Seperti halnya bila Anda menginvestasikan dana di saham.

Bila Anda mengikuti perkembangan setiap saat, bila kecenderungan pasar lagi turun, Anda terangsang untuk menjual saham yang Anda miliki. Karena informasi yang diperoleh hampir setiap hari, seringkali sulit untuk tetap bertahan di keputusan yang telah ditetapkan sejak semula.

Dalam hal monitoring investasi yang telah Anda alokasikan dan tempatkan akan lebih baik bila Anda melihat setiap enam bulan atau tiga bulan sekali. Hal ini bisa mungurangi keinginan Anda untuk menjual (karena perubahan sesaat) saham-saham atau investasi yang dimiliki.

Bagaimana Mengatasi Hal Ini?

Untuk menanggulangi emosi yang menghambat investasi Anda, langkah pertama adalah dengan melakukan otomatisasi menabung (menabung dengan memotong secara otomatis setiap bulan dari pendapatan) yang Anda lakukan sehingga tetap berjalan di perencanaan yang telah ditetapkan dan ada tiga tindakan yang sebaiknya dipertimbangkan, Dollar Cost Averaging, Rebalancing (membalance alokasi portfolio) dan Simplifiying (dibuat simpel).

Dollar Cost Averaging

Perencanaan keuangan keluarga merupakan perencanaan yang berkesinambungan. Dibutuhkan disiplin dan motivasi yang kuat guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan keterbatasan pendapatan yang diperoleh setiap bulan, sangat dianjurkan bagi keluarga untuk memulai menyisihkan dana untuk tujuan keuangan sedini mungkin. Penempatan dan alokasi dana dilakukan secara reguler setiap bulan sesuai kesanggupan keuangan keluarga. Pola investasi ini biasa disebut dengan dollar cost averaging (DCA).

Berikut ini ilustrasi DCA untuk penempatan dana di bursa saham. Konsep DCA ada hubungannya dengan diversifikasi. Para investor di bursa saham berdiversifikasi dengan menanamkan uang tak hanya pada satu saham, tapi menyebarkannya pada banyak saham di pelbagai sektor. Gagasannya: bila satu sektor sedang lesu, mungkin sektor lain bisa mengompensasinya.

Diversifikasi seperti ini sudah lazim dan dikenal banyak orang. Masalahnya, bagaimana jika semua sektor ”atau dengan perkataan lain pasar saham” kebetulan pada waktu tertentu sedang merosot? Dalam situasi ini, diversifikasi seperti itu tidak bisa berbuat banyak. Salah satu cara yang pasti ampuh untuk menghindari kerugian akibat merosotnya pasar saham adalah jangan berinvestasi di saham. Memang, dengan tidak berinvestasi di pasar saham berarti tak mengalami kerugian, tapi Anda juga tak akan mengalami keuntungan kalau pasar meroket seperti yang terjadi mulai pertengahan tahun 2003 sampai awal 2004.

Lalu, mesti bagaimana? Jangan khawatir, masih ada harapan. Ada satu jenis diversifikasi lagi yang dapat mengurangi risiko kerugian akibat kemerosotan pasar saham. Konsep yang satu ini bukan diversifikasi biasa, namanya diversifikasi waktu. Konsep aslinya sering disebut DCA.

Misalkan Anda punya uang Rp 1 miliar untuk diinvestasikan dalam bentuk saham. Berdasarkan hitungan rasio harga-pendapatan (price-earning ratio: PER) dan harga-nilai buku (price-to-book value: PBV), Anda pikir saham-saham di Bursa Efek Jakarta kini relatif murah. Kalau pasar meningkat pesat dalam tempo 1- 2 tahun, return yang akan diperoleh bisa sangat besar.

Kendati begitu, dalam jangka pendek Anda masih ragu dengan naik-turunnya pasar. Ada kemungkinan pasar masih melorot sejenak sebelum tinggal landas. Kalau uang Rp 1 miliar ini diinvestasikan sekarang dan ternyata pasar merosot, bisa runyam. Sebaliknya, kalau investasi ditunda dan ternyata pasar segera menguat, Anda ketinggalan kereta dan terpaksa gigit jari. Pendeknya, baik masuk terburu-buru maupun menunggu terlalu lama sama-sama bisa membuat Anda menyesal.

Alternatif konservatif untuk menghindari penyesalan itu adalah dengan menginvestasikan uang Anda secara bertahap, misalnya Rp 100 juta tiap bulan selama 10 bulan. Sambil menunggu, uang yang belum diinvestasi bisa dititip di broker dengan bunga setingkat bunga deposito (tentu saja hal ini harus dikonfirmasi dan dinegosiasikan dengan broker Anda). Dengan cara begitu, bila pasar masih menurun Anda tak akan terlalu menyesal masuk saat pasar masih relatif tinggi. Serupa dengan itu, bila pasar mulai meningkat, Anda juga tak terlalu menyesal terlambat masuk pasar.

Manfaat lain dari DCA: dengan membeli sedikit-sedikit, order belinya tak membuat harga naik. Bayangkan bila seorang investor punya uang Rp 1 triliun yang sekaligus diinvestasikan dalam satu hari. Order beli tersebut tak akan bisa dipenuhi tanpa menyebabkan harga saham naik untuk sementara, terutama bila saham-saham yang dipesan kurang likuid (nilai transaksi normal per harinya hanya sedikit).

DCA juga berlaku bila Anda berencana menginvestasikan sebagian penghasilan Anda setiap bulan secara teratur. Untuk investasi yang relatif sedikit, Anda dianjurkan menggunakan sarana investasi reksadana. Dengan menggunakan reksadana, investasi Anda telah terdiversifikasi dalam banyak saham yang dimiliki oleh reksadana itu. Jadi, diversifikasi saham didelegasikan kepada reksadana, sementara diversifikasi waktu langsung Anda kendalikan sendiri.

Diversifikasi waktu melalui DCA memerlukan disiplin dan horison investasi jangka panjang. Dengan mengabungkan otomatisasi pemotongan dana untuk tabungan, dan pola DCA, potensi tujuan yang diinginkan dalam jangka panjang menjadi meningkat. Dalam banyak hal”-termasuk investasi”-tanpa perencanaan, disiplin, dan kesabaran sulit untuk mencapai hal yang Anda idam-idamkan.

Rebalancing and Simplifying

Merancang ulang target alokasi porfolio yang Anda miliki sehingga sesuai dengan investasi yang telah ditetapkan disebut dengan rebalancing. Rebalancing ini bisa dengan membeli saham atau obligasi bila terjadi perubahan harga. Misalkan dari total investasi yang Anda miliki, Anda mengalokasikan 20 persen di saham. Karena pasar modal sedang naik, nilai total investasi di saham jadi meningkat, yang tadinya persentasinya hanya 20 persen menjadi 30 persen dari total investasi. Sehingga Anda befikir untuk mengubah alokasi portfolio seperti semula yaitu dengan menjual sebagai saham yang dimiliki dana dibelikan obligasi atau investasi pasar uang.

Coba untuk menjadi investasi yang Anda lakukan semudah dan sesimpel mungkin. Hindari investasi yang mengharuskan Anda untuk mengambil terlalu banyak keputusan. Tempatkan investasi dalam bentuk reksadana karena produk ini banyak memberikan keunggulan seperti ases ke berbagai instrumen investasi, tingkat likuiditas yang tinggi, dikelola oleh manajer investasi profesional dan lain-lain.

Demikianlah penjelasan kami seputar emosi dalam pengambilan keputusan investasi. Kenali berbagai emosi yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berinvestasi dan coba untuk emgatasinya dengan menetapkan perencanaan dan melakukan ketiga tindakan dalam jangka panjang. Hal ini akan meningkatkan potensi pencapaian tujuan yang selama ini diidamkan.n

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Category Uncategorized | 23 Kommentare »

Hidup Nyaman Dengan Jaring Penyelamat

post time 1. July 2008 member Admin

Sebuah tujuan keuangan keluarga dimulai dengan perencanaan dan dilaksanakan berdasarkan alokasi dari rencana yang telah Anda buat. Dalam perjalanan kehidupan berkeluarga pasti menghadapi kerikil-kerikil rintangan. Terkadang rintangan atau risiko tersebut sedemikian besar sehingga Anda tidak lagi dapat mengatasi problema keuangan yang harus Anda pikul. Akan banyak sekali dampak buruk terhadap kelangsungan kehidupan keluarga. Oleh karenanya kami sangat menganjurkan agar Anda merencanakan proteksi terhadap problema-problema dalam perjalanan kehidupan yang mungkin terjadi.

Realita: hidup tidak selalu gembira

Seperti halnya orang lain, kami adalah orang-orang yang memiliki pemikiran yang positif dan kami selalu berharap bahwa semua keadaan akan terus baik bagi kita semua. Akan tetapi, kenyataannya bahwa tidak semua hal sesuai dengan apa yang Anda harapkan. Realitanya, kehidupan mungkin memburuk. Orang-orang kehilangan pekerjaannya, pernikahan yang telah dibina bersama berantakan, bisnis atau usaha menjadi bangkrut dan mungkin saja tulang punggung keuangan keluarga sakit atau malah meninggal dunia. Semua ini sering kali terjadi. Kenyataannya bahwa tidak setiap keluarga siap bila hal ini terjadi.

Tidak ada cara untuk menghindar dari itu semua. Semua hal ini mungkin terjadi dan ada kejadian yang pasti terjadi. Akan tetapi, tidak ada alasan bagi Anda untuk bingung dan rendah hati. Bila Anda mengetahui bahwa ada kejadian-kejadian yang sangat mungkin terjadi maka Anda sebagai keluarga dapat mempersipkannya. Dengan begitu Anda memiliki kekuatan secara keuangan bila hal ini terjadi. Memiliki “rencana B” akan memberikan rasa aman bagi Anda. Sebenarnya bukan hanya rasa aman, tapi keamanan itu sendiri. “Rencana B” ini adalah sebuah perencanaan proteksi. Perencanaan ini seperti halnya bangunan rumah Anda. Bila Anda memiliki rumah yang indah dan megah dan tidak ditopang dengan pondasi yang kokoh, maka mungkin saja rumah tersebut runtuh dan mencelakakan keluarga di dalamnya. Dalam hal ini, perencanaan ini harus dilihat dari perencanaan yang menyeluruh sehingga alokasi dana yang dibutuhkan akan sesuai dengan apa yang diinginkan.

Tujuan dari perencanaan proteksi sangatlah simpel, yaitu memberikan keamanan dan menjaga kelangsungan kehidupan keluarga Anda, pasangan dan anak-anak Anda bila terjadi suatu risiko yang tidak diharapkan terhadap tulang punggung keuangan keluarga. Risiko ini mungkin saja bisa merupakan risiko yang berat misalkan hilangnya arus masuk keuangan keluarga akibat pemutusan hubungan kerja maupun meninggalnya salah satu anggota keluarga. Atau suatu risiko kecil seperti misalnya rumah Anda bocor dan memerlukan perbaikan atau anak Anda sakit harus berobat kerumah sakit. Duduk permasalahannya adalah kejadian yang tidak diharapkan mungkin terjadi, walau Anda tidak dapat meramalkannya di depan tetapi Anda dapat mengantisipasinya dengan sebuah perencanaan proteksi yang benar dan menyeluruh.

Mungkin proteksi ini seperti halnya perlenggkapan keamanan dalam sebuah mobil. Bila Anda membeli mobil baru, maka biasanya akan diberikan perangkat keamanan standar, seperti sabuk pengaman, air bag dan lain-lain. Dengan adanya ini bukannya Anda mengharapkan akan terjadi risiko kecelakaan. Akan tetapi Anda hanya berprilaku bijak dengan mempersiapkan bila kecelakaan ini terjadi. Oleh karenya kami merasa bahwa perencanaan ini atau “rencana B” ini wajib dimiliki oleh setiap keluarga yang ingin mencapai tujuan keuangan masa depan dengan mempersiapkan “sabuk pengaman” atau ”air bag” bagi kelangsungan kehidupan keluarga.

Dalam hal ini, kami mengidentifikasi beberapa hal yang menurut hemat kami perlu dan dibutuhkan bagi setiap keluarga dalam menjalankan kehidupan berkeluarga. Tujuan dari perencanaan ini adalah agar jangan sampai kejadian tak terduga menjadi hambatan bagi keluarga untuk dapat terus menjalankan rencana jangka panjangnya.

Emergency fund menjadi awal

Dalam sebuah perencanaan keuangan menyeluruh berkenaan dengan keuangan keluarga, memiliki uang tunai dalam jumlah tertentu menjadi sangat diperlukan bila masalah timbul. Kami ingin agar Anda memikirkan sejenak “air bag” yang Anda dan keluarga butuhkan. Dengan “air bag” ini akan meringankan beban Anda bila kejadian yang tak terduga datang seperti pemutusan hubungan kerja atau kecelakaan.

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah berapa nilai yang cukup untuk berjaga-jaga bila kejadian ini terjadi? Berapa jumlah nilai yang harus disimpan dalam bentuk tunai agar memberikan rasa aman bagi Anda dan keluarga?

Jawabannya mudah saja. Semua ini sangat bergantung dengan berapa besar pengeluaran Anda dan keluarga selama sebulan. Kata kuncinya adalah pengeluaran bukan penghasilan yang Anda peroleh setiap bulan. Dalam hal Anda berdualah, pasangan suami istri yang harus menentukan dan menghitung berapa besar pengeluaran Anda dan keluarga setiap bulannya.

Setelah Anda dapat menentukan besarnya pengelauran Anda dan keluarga setiap bulannya, kemudian berapa besar yang harus disisihkan dalam bentuk tunai untuk proteksi? Menurut hemat kami, paling tidak Anda memiliki minimum tiga (3) bulan dari pengeluaran yang Anda lakukan setiap bulannya. Misalkan Anda sudah menghitung rata-rata pengeluaran Anda dana keluarga setiap bulannya adalah Rp5 juta maka minimum Anda harus menyimpan dalam bentuk tunai sebanyak Rp15 juta.

Tiga (3) bulan adalah nilai minimum yang harus Anda sisihkan. Tapi mungkin saja Anda dan keluarga ingin menyisihkan 24 kali dari pengeluaran bulanan. Jelas sekali dalam hal ini terjadi perbedaan yang sangat besar. Hal ini mungkin saja Anda lakukan. Memutuskan jumlah yang sesuai dengan pola pikir Anda memerlukan pertimbangan yang matang. Pertimbangan ini bisa saja melihat beberapa hal seperti, misalkan Anda mendapat gaji rutin setiap bulannya, tapi bila terjadi pemutusan hubungan kerja berapa lama waktu yang Anda rasa butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan kembali? Hal ini harus Anda bicarakan dengan pasangan Anda karena semua ini sangat bergantung dengan pola pikir individu didalam keluarga.

Mungkin Anda bertanya, di mana sebaiknya kita menyimpan dana darurat ini? Menurut hemat kami yang perlu Anda pertimbangkan adalah seberapa mudah atau cepat Anda dapat mencairkannya atau seberapa likuid dana tersebut. Karena kebutuhan ini terkadang sangat mendadak, jadi Anda sebaiknya menyimpannya dalam bentuk tabungan. Bila nilai yang Anda butuhkan cukup besar mungkin Anda dapat membaginya sebagaian dalam bentuk tabungan dan sebagian lagi dalam bentuk reksadana pasar uang. Pertimbangannya adalah karena bila jumlah yang Anda alokasikan jumlahnya cukup besar maka bila ditempatkan hanya di tabungan maka Anda hanya mendapatkan bunga yang minim dan Anda memberikan keuntungan kepada bank. Dengan menempatkan sebagian dana dalam bentuk reksadana pasar uang, maka bunga yang Anda bisa peroleh rata-rata lebih tinggi dan tingkat likuiditasnya juga cukup tinggi.

Jagalah orang-orang yang Anda cintai dengan asuransi jiwa

Sebagian besar masyarakat kita sangat anti bila berbicara mengenai asuransi. Banyak sebab mengapa hal ini bisa terjadi. Paling tidak kami menemukan 3 (tiga) alasan mendasar mengapa orang tidak/belum mau membeli asuransi. Pertama, ia belum melihat asuransi merupakan kebutuhan hidupnya, karena ia belum mempunyai uang yang cukup untuk itu. Kedua, keadaan ekstrim lainnya yaitu orang yang sudah banyak sekali memiliki uang/aset sehingga tidak memerlukan lagi membeli asuransi untuk menutupi risiko yang mungkin timbul. Dalam pandangannya, jumlah harta yang bejibun dan aset-aset produktif yang menghasilkan uang tanpa harus bekerja itu telah menjadi proteksi yang membuat asuransi tidak diperlukan lagi bagi dirinya. Ketiga, orang yang tidak begitu memahami apa manfaat yang mungkin diperoleh jika ia membeli asuransi.

Jika terjadi kematian pada seseorang, sementara orang tersebut adalah pencari nafkah utama di dalam keluarganya, maka akan hilanglah sebagian besar pendapatan, atau mungkin bahkan seluruh pendapatan yang diterima oleh keluarga. Yang kemudian terjadi dalam waktu dekat akan terbayang sebuah keluarga yang tidak mendapatkan atau berkurang pemasukan bulanannya secara significant.

Akibat yang segera dirasakan adalah tingkat kesejahteraan hidup dan standar gaya hidup mulai terganggu, apalagi jika kemudian datang berbagai tagihan hutang almarhum, tagihan kartu kredit, tagihan biaya pengobatan yang belum dibayar, biaya pemakaman, dan sebagainya. Jangankan mereka yang sama sekali tidak memiliki asuransi jiwa, keluarga yang sudah membeli asuransi jiwa pun masih mungkin terganggu secara finansial jika tiang penopang utama keluarganya meninggal dunia. Hal mungkin terjadi bila Anda tidak memperhitungkan berapa nilai pertanggungan yang sesuai dengan keadaan keuangan Anda? jadi hal penting yang perlu Anda perhatikan adalah cara menghitung berapa uang pertanggungan yang sebaiknya Anda ambil?

Menurut hemat kami ada faktor-faktor yang perlu Anda pertimbangkan dan diperhitungkan ketika seseorang (Anda) merencanakan untuk membeli asuransi? Berikut, empat hal yang dapat dipertimbangkan sebagai faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan jumlah uang pertanggungan, Pertama, berapa jumlah hutang yang Anda miliki?; kedua, berapa banyak aset/harta yang Anda tinggalkan untuk keluarga?; ketiga, berapa lama aset tersebut dapat menghidupi mereka tanpa harus menurunkan standar gaya hidup mereka?; dan keempat, berapa banyak dana yang diperlukan untuk membiayai kehidupan anak-anak Anda sampai mereka menjadi dewasa dan mandiri, termasuk biaya pendidikan mereka?

Setelah Anda menghitung besarnya uang pertanggungan berdasarkan faktor-faktor di atas dan Anda kaget dengan nilai yang harus Anda ambil (premi yang harus dibayar). Besarnya jumlah nilai proteksi atau uang pertanggungan yang harus dipersiapkan tidak perlu sampai membuat Anda distress (tertekan dan cemas berlebihan), sepanjang Anda ingat bahwa pada dasarnya asuransi adalah sebuah perencanaan. Artinya, Anda dapat merencanakan untuk membeli asuransi jiwa dengan jumlah premi tertentu secara bertahap. Urutan prioritasnya kami usulkan sebagai berikut: pertama, belilah asuransi jiwa dengan jumlah uang pertanggungan (dan premi) yang bisa menutupi seluruh hutang-hutang Anda, agar sekurang-kurangnya anda tidak mewariskan hutang kepada generasi berikutnya;

Kedua, bila hutang-hutang sudah diamankan, maka belilah asuransi jiwa berikutnya untuk mengamankan kebutuhan hidup keluarga sehari-hari untuk rentang waktu tertentu, terhitung sejak Anda meninggal dunia; Dan ketiga, pada tahap berikutnya, yakni jika anda telah berhasil mengumpulkan sejumlah uang tambahan, belilah asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan yang bisa memenuhi biaya-biaya membesarkan anak-anak Anda, termasuk biaya pendidikannya. Jadi, meski tentu tidak mudah mengaturnya, namun dengan perencanaan yang matang, hal di atas tetap dimungkinkan (kecuali Tuhan berkehendak lain, tentu).

Demikianlah beberapa pertimbangan yang Anda butuhkan dalam mengantisipasi risiko yang sering terjadi dalam menjalankan kehidupan keluarga. Semoga bermanfaat.[]

Oleh M. Ichsan (seorang perencana keuangan dari PrimaPlanner)
Sumber Pembelajar.com

Category Uncategorized | 51 Kommentare »

Tips and Trik Terbebas dari Lilitan Utang Berkepanjangan

post time 1. July 2008 member Admin

Lebih kurang dua bulan yang lalu, kami membuka e-mail seperti biasanya, dari banyak e-mail yang masuk, kami membaca satu pertanyaan yang diajukan oleh seorang ibu yang merasa kesulitan untuk menyelesaikan utang-utang yang masih dimiliki. Kesulitan ini terjadi karena suaminya terkena PHK.

Sebut saja Ibu Lisa menanyakan langkah praktis yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini. Untuk itu, ulasan kali ini kami akan mengetengahkan beberapa indikasi atau sinyal berbahaya berkaitan dengan utang dan langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan untuk keluar dari lilitan utang yang berkepanjangan.

Bank-bank semakin gencar menawarkan berbagai kredit consumer kepada individu. Berbagai kemudahan ditawarkan mulai dari singkatnya masa permohonan sampai kredit tanpa agunan. Hal ini memberikan daya tarik tersendiri bagi individu di mana mereka bisa memiliki suatu barang terlebih dahulu dan membayarnya kemudian—tentunya dengan mencicilnya setiap bulan.

Namun, kemudahan yang diberikan malah mengakibatkan risiko finansial yang bisa merusak keuangan keluarga karena pemanfaatannya yang kurang bijak. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan bila kondisi keuangan Anda sudah semakin terhimpit, kebutuhan keluarga semakin meningkat dan Anda tetap diharuskan membayar cicilan bulanan secara regular.

Sebelum masuk ke langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan, ada baiknya Anda menyimak beberapa sinyal atau tanda berbahaya yang bisa harus diperhatikan berkaitan dengan masalah utang.

Tanda Berbahaya Mengenai Utang

Seringkali kita tidak dapat melihat dan merasakan tanda-tanda yang harus diwaspadai sampai setelah keadaan menjadi besar. Biasanya kesulitan keuangan tidak datang mendadak, tapi hal itu terjadi akibat akumulasi dari berbagai masalah yang tidak ditindak lanjuti dengan bijak.

Oleh karena itu, kami melihat pentingnya mewaspadai beberapa tanda berbahaya berkaitan dengan utang sehingga Anda dapat mengenali masalahnya lebih dini dan mengatasinya dengan baik.

Perhatikan list berikut ini, bila ada yang Anda rasa bahwa Anda melakukan hal tersebut, hati-hatilah. Bisa jadi Anda menuju ke kesulitan finansial di masa datang. Anda berpikir bahwa kartu kredit merupakan uang tunai bukannya utang.

  • Utang Anda lebih besar dari aset yang Anda miliki
  • Anda berutang kepada lebih dari tujuh kreditor
  • Anda termasuk yang memiliki kebiasaan berbelanja yang hanya didasari oleh keinginan—impulse spending.
  • Anda dan pasangan Anda tidak terbuka dengan masalah utang yang dimiliki
  • Anda tidak mengetahui berapa pengeluaran regular Anda per bulan dan berapa besar utang yang masih tersisa
  • Anda bergantung dengan pendapatan ekstra baik dari keluarga maupun kerja lembur Anda untuk menutupi kebutuhan bulanan Anda.
  • Anda hanya memiliki dana tunai atau dana yang bisa dicarikan dengan cepat senilai kurang dari dua bulan biaya hidup Anda.
  • Anda memiliki kewajiban cicilan sebesar lebih dari 20% pendapatan bulanan diluar Kredit Kepemilikan rumah atau KPR.
  • Anda mengonsolidasi beberapa utang Anda menjadi satu utang atau memperpanjang jangka waktu utang Anda untuk membayar cicilan bulanan.
  • Anda tidak lagi sanggup untuk membayar kebutuhan bulanan beserta cicilan kredit yang besar sehingga Anda melakukan hal-hal di bawah ini:
    1. Berutang lagi
    2. Mencairkan tabungan yang Anda miliki
    3. Menunggak pembayaran cicilan bulanan
    4. Membayar hanya minimum dari setiap tagihan kredit yang dimiliki.

Bila Anda men-check (­) paling tidak empat dari semua list di atas, cobalah untuk mengevaluasi pengeluaran yang selama ini Anda lakukan dan bayarlah cicilan secara regular dan usahakan lebih dari sekadar pembayaran minimum.

Bila Anda men-check (­) paling tidak lima atau lebih, Anda mulai merasakan kesulitan untuk menyelesaikan masalah ini.

Bila Anda men-check (­) lebih dari tujuh pernyataan di atas, Anda sudah masuk kategori kesulitan keuangan. Perhatikan hal-hal diatas baik-baik.

Mengembangkan Perencanaan Manajemen Utang

Bila Anda pada posisi di mana pengeluaran bulanan yang diperlukan tidak dapat dipenuhi dengan pendapatan regular bulanan, langkah yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengembangkan perencanaan menajemen utang.

Langkah ini dapat membantu Anda keluara dari lilitan utang yang memberatkan dan tetap menjalani kehidupan keuangan keluarga dengan cukup walau dengan keterbatasan. Langkah-langkah di bawah ini tidak akan memperbaiki keuangan Anda dalam semalam, Anda harus melakukan dengan reguler dan kesabaran.

Untuk mengembangkan perencanaan manajemen utang, ikuti langkah-langkah berikut ini:

  1. Cari tahu dengan siapa Anda berutang dan berapa jumlah terutang
  2. Tentukan berapa nilai yang bisa Anda sisihkan untuk pembayaran
  3. Buat perencanaan untuk menyelesaikan masalah utang ini
  4. Diskusikan dengan kreditor

1. Cari tahu dengan siapa Anda berutang dan berapa jumlah terutang.

Langkah pertama dan terpenting adalah dengan mencari tahu dengan siapa Anda berutang dan berapa saldo utang yang masih sisa. Ada beberapa hal yang sebaiknya Anda cantumkan dari daftar ini seperti:

  • Nama kreditor, alamat dan nomor telepon.
  • Kolateral bila ada
  • Saldo akhir utang
  • Jumlah pembayaran yang masih tersisa
  • Besarnya cicilan bulanan yang harus dibayar
  • Tanggal jatuh tempo
  • Jumlah dan tanggal pembayaran terakhir

2. Tentukan berapa nilai yang bisa Anda sisihkan untuk pembayaran.

Setelah Anda membuat daftar semua utang yang masih dimiliki, tentukan berapa besar yang sanggup Anda bayar untuk setiap kreditor dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembayaran ini.

Sebaiknya, cicilan utang setiap bulan tidak melebihi 30% dari pendapatan bulanan. Misalkan saja, penghasilan Anda setiap bulannya adalah Rp 5 juta per bulan atau Rp 60 juta setahun sehingga cicilan terbesar yang sebaiknya dialokasikan untuk membayar cicilan setiap bulan adalah Rp 1,5 juta. Mengapa? Karena biaya keluarga membutuhkan paling tidak 75% dari pendapatannya untuk berbagai kebutuhan baik jangka pendek, menengah maupun panjang.

Bila ternyata, cicilan bulanan yang harus Anda keluarkan lebih besar dari 30% pendapatan misalkan Rp 2 juta setiap bulannya, Anda harus mencari jalan untuk dapat mengumpukan dana setiap bulannya untuk keperluan cicilan utang.

Langkah yang bisa Anda lakukan adalah dengan membuat catatan pengeluaran setiap bulannya dan cari lubang di mana Anda dapat mengurangi pengeluaran Anda untuk menambah jumlah cicilan yang dibutuhkan.

Langkah lain yang bisa Anda lakukan adalah menjual aset yang Anda miliki. Hal ini tentunya bila utang Anda sudah sangat tinggi dan Anda sangat kesulitan untuk dapat membayar cicilan walau hanya sebatas minimumnya saja.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah menambah pendapatan bulanan, misalkan dengan bekerja paruh waktu akan lebih sering mengambil lembur. Tapi yang perlu disadari adalah langkah ini hanyalah sementara. Keluar dari masalah utang yang melilit kencang membutuhkan tekad dan kesabaran.

3. Buat perencanaan untuk menyelesaikan masalah utang ini.

Setelah melakukan kedua langkah di atas, tentunya saat ini Anda sudah memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi utang Anda, berapa besar yang harus dibayarkan setiap bulannya dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melunasi semua utang yang masih tersisa.

Langkah selanjutnya adalah menentukan berapa besar cicilan untuk setiap kreditor dan berapa lama waktu yang diperlukan. Usahakan waktu tersebut tidak melampaui masa tiga (3) tahun.

Perencanaan pembayaran cicilan dapat dilakukan dengan beberapa pola pembayaran, misalkan Anda mengalokasikan dana dalam jumlah yang sama bagi setiap kreditor. Atau Anda dapat menggunakan pola di mana pembayaran terbesar dilakukan pada utang dengan bunga yang terbesar dan jumlah yang terbesar.

Di bawah ini adalah contoh pola pembayaran yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan utang yang masih tersisa. Contoh berikut berdasarkan pendapatan sebesar Rp 5 juta setiap bulannya dan besarnya alokasi cicilan yang bisa dikeluarkan adalah sebesar 30% dari pendapatan atau sebesar Rp 1.500.000.

Contoh berikut dengan alokasi besar cicilan sama setiap kreditornya.

Utang Saldo Utang Bunga Cicilan Minimum Yang Dibayarkan
Kartu Kredit A 5,600,000 2.90% 280,000 375,000
Kartu Kredit B 4,900,000 3.25% 245,000 375,000
Kredit Personal-C 8,000,000 1.89% 484,500 375,000
Kredit Personal-D 9,000,000 1.69% 902,100 375,000
Total 1,500,000

Jumlah dana yang dimiliki untuk pembayaran cicilan adalah sebesar Rp 1.500.000 dibagi rata untuk empat kreditor maka Rp 1.500.000/4 = Rp 375.000.

Namun, Ada pola yang dirasa lebih bijak, yaitu pola kedua, dengan melihat bunga terbesar dan jumlah utang yang masih dimiliki. Urutannya adalah jumlah bunga yang tertinggi dibayarkan lebih besar selanjutnya sampai yang terkecil. Bila ada bunga yang sama maka cobalah untuk mempertimbangkan jumlah utang yang lebih besar, bayar lebih besar.

Contoh berikut merupakan alokasi di mana pembayaran terbesar dialokasikan kepada utang dengan bunga tertinggi.

Utang Saldo Utang Bunga Cicilan Minimum Yang Dibayarkan
Kartu Kredit A 5,600,000 2.90% 280,000 350,000
Kartu Kredit B 4,900,000 3.25% 245,000 425,000
Kredit Personal-C 8,000,000 1.89% 484,500 375,000
Kredit Personal-D 9,000,000 1.69% 902,100 350,000
Total 1,500,000

Sangat penting bagi Anda untuk membayar semua utang yang Anda miliki. Dalam kondisi di mana Anda tidak mencukupi untuk membayar cicilan minimum, Anda alokasikan menurut prioritas Anda. Saran kami, bayar utang dengan bunga terbesar bayarkan yang paling banyak, seperti contoh kedua.

4. Diskusikan dengan kreditor

Menghubungi kreditor sebaiknya Anda lakukan dan diskusikan pola cicilan yang Anda miliki. Tidak ada yang diinginkan oleh kreditor kecuali uangnya kembali. Mungkin mereka menawarkan Anda jadwal cicilan pembayaran baru atau mungkin menawarkan konsolidasi utang Anda ke satu utang dengan bunga yang relative lebih rendah. Cobalah untuk meminta kreditor Anda untuk menghapus fee-fee yang harus Anda bayarkan, karena hal ini bisa mengurangi beban total utang yang harus dilunasi.

Demikian saran dan langkah yang bisa kami uraikan dalam pembahsan kali ini, semoga bermanfaat.

POJOK “PESAN”™ (PEtuah Solusi KeuangAN) EUREKA

Utang berkepanjangan disebabkan oleh banyak hal dan terjadi karena tidak ditangani dengan bijak. Sebelum Anda terlilit olehnya, kenali berbagai tanda-tanda yang mungkin membawa Anda dalam kesulitan.

Mulailah untuk merubah kebiasaan buruk Anda berkenaan dengan keuangan, khususnya utang. Jalani hidup secara sederhana harus menjadi moto keluarga.

Sesuaikan pembayaran cicilan dengan penghasilan bersih yang Anda dapatkan setiap bulannya. Jangan melebihi dari 30% dari penghasilan bersih. Inilah ukuran umum yang perlu diperhatikan.
Bila Anda terlilit utang berkepanjangan, coba lakukan langkah-langkah manajemen utang.

Saran kami, utamakan membayar utang dengan bunga yang tertinggi terlebih dahulu. Bila dirasa kondisi keuangan sangat sulit, pertimbangkan untuk melikuidasi beberapa aset yang Anda miliki.n

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis

Category Uncategorized | 65 Kommentare »

Asuransi Terbaik versi Infobank

post time 1. July 2008 member Admin

Jakarta - Majalah InfoBank kembali merilis rating atas 130 Asuransi di Indonesia. Pemeringkatan itu didasarkan pada laporan keuangan publikasi dengan 10 kriteria.

Sepuluh kriteria itu adalah RBC, rasio likuiditas, rasio cadangan teknis dengan aktiva lancar, rasio cadangan premi dengan premi retensi sendiri, perubahan pendapatan premi bruto, rasio premi retensi sendiri dengan modal sendiri, rasio investasi dengan cadangan teknis ditambah utang klaim, rasio beban klaim neto dengan premi neto, rasio beban pendapatan dengan pendapatan, dan rasio laba dengan rata-rata modal sendiri.

Demikian disampaikan oleh Direktur Biro Riset InfoBank Eko B. Supriyanto dalam acara Rating 130 Asuransi Tahun 2007 Versi InfoBank di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selas (3/6/2007).

Berdasarkan kriteria tersebut, maka perusahaan yang mendapat predikat “sangat bagus” dengan premi bruto Rp 1 triliun ke atas antara lain pertama PT Prudential Life Insurance, kedua Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, dan ketiga PT Asuransi Jiwa Sinarmas.

Lalu untuk perusahaan asuransi jiwa dengan premi bruto Rp 200 miliar sampai Rp 1 triliun dengan predikat “sangat bagus” adalah pertama Asuransi Cigna, kedua AXA Financial Indonesia dan ketiga Astra CMG Life.

“Untuk yang premi brutonya di bawah Rp 200 miliar dan mendapat predikat “sangat bagus” adalah pertama Asuransi Takaful Keluarga, kedua Asuransi Jiwa Bumiarta Reksatama dan ketiga UOB Life-Sun Assurance,” tambah Eko.

Sementara itu, rating untuk perusahaan asuransi umum dengan premi Rp 200 miliar ke atas dan berpredikat “sangat bagus” antara lain pertama Asuransi Adira Dinamika, Zurich Insurance Indonesia, dan Asuransi Jasaraharja Putera.

Sedangkan yang premi brutonya Rp 50 miliar sampai dengan di bawah Rp 200 miliar dengan predikat “sangat bagus” adalah Tugu Kresna Pratama, Asuransi Samsung Tugu dan Asuransi Permata Nipponkoa Indonesia.

“Untuk yang premi brutonya di bawah Rp 50 miliar dan preikat “sangat bagus” antara lain Asuransi Bhakti Bhayangkara, Arthagraha General Insurance dan Asuransi AIOI Indonesia,” tuturnya.

Dalam rating ini hanya ada satu perusahaan asuransi jiwa yang berpredikat tidak bagus, dan ada 9 perusahaan asuransi umum yang berpredikat tidak bagus.

“Tapi ada 3 perusahaan asuransi jiwa yang tidak mengeluarkan laporan keuangannya, sementara 5 perusahaan asuransi umum yang tidak mengeluarkan laporan keuangannya atau laporan keuangannya tidak lengkap,” tambahnya.

Menurutnya sebenarnya dari sisi portofolio investasi, perusahaan-perusahaan asuransi di Indonesia sudah semakin baik dalam strategi yang dipilihnya.

“Investasi dalam deposito oleh perusahaan asuransi sebesar 20,53 persen, lebih kecil dari investasi dalam saham dan obligasi yang sebesar 23,47 persen serta dalam surat berharga yang diterbitkan atau dijamin pemerintah sebesar 23,25 persen,” jelasnya.

Sedangkan reksadana mendapat kucuran investasi asuransi sebesar 13,9 persen, disusul oleh penyertaan langsung sebesar 3,3 persen. (dnl/qom)

Wahyu Daniel - detikfinance

Category Uncategorized | 37 Kommentare »

Rumus Sakti Penghindar Tekor Tiap Bulan !

post time 1. July 2008 member Admin

Pernah merasa sesak nafas saat mesti membayar sesuatu di tanggal tua? Pertengahan bulan atau hari-hari menjelang gajian memang saat yang kadang-kadang membuat kita pucat bagai telur di ujung tanduk. Ya gimana tidak, dompet sudah tipis masih harus dikorek-korek untuk membayar segala macam tagihan dan pengeluaran.

Sebenarnya, kalau Anda mau sedikit berencana di awal bulan, Anda tidak akan ’mati suri’ bila sudah masuk tanggal tua. Agar tak tekor tiap bulan, buat perencanaan keuangan dengan pintar. Hasilnya, meski akhir bulan sudah menjelang, masih ada dana tersedia untuk bersenang-senang!

Pakai rumus sakti : 30 20 30 20!

30% : Angka ini adalah jumlah maksimal yang boleh Anda gunakan untuk bayar kos atau sewa rumah. Sesuaikan anggaran perumahan dengan gaji yang Anda dapat. Yang penting, jangan melebihi 30% dari total pendapatan Anda. Alangkah baiknya kalau sewa kos bisa jauh lebih rendah dari angka ini.

20% : Untuk jatah tabungan atau investasi. Bisa berupa tabungan tradisional, deposito atau investasi saham dan reksadana. Alternatif lain dari jaman kuda gigit besi : menyimpan dalam bentuk emas!

30% : Modal operasional Anda untuk keperluan sehari-hari. Termasuk dalam budget ini adalah uang makan sehari-hari, keperluan pribadi atau belanja bulanan lainnya. Jangan lupa masukkan juga tagihan kartu kredit dalam pos ini.

20% : Ini adalah budget ekstra untuk keperluan ’hedonis’ Anda. Belanja baju, aksesori, nonton, sewa VCD, beli kaset atau CD, jalan-jalan atau hiburan lainnya. Kalau ada rekan yang menikah atau ulang tahun, budget 20% ini bisa digunakan untuk beli hadiah.

Sumber Hanyawanita.com

Category Uncategorized | 0 Kommentare »
 « Next  

Website Keuangan is powered by WordPress
Theme is Coded&Designed by Wordpress Themes at ricdes